{"id":47,"date":"2023-09-15T03:47:18","date_gmt":"2023-09-15T03:47:18","guid":{"rendered":"https:\/\/mediadakwah.julehajatim.com\/?p=47"},"modified":"2023-09-15T03:53:15","modified_gmt":"2023-09-15T03:53:15","slug":"thoharoh-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mediadakwah.julehajatim.com\/index.php\/2023\/09\/15\/thoharoh-4\/","title":{"rendered":"Thoharoh (4)"},"content":{"rendered":"\n<p>Oleh Ustadz Farid Ahmad (SDA220006)<\/p>\n\n\n\n<p>Cara Bersuci Bagi Daimul Hadats (Orang yg selalu terdapat HADATS pada tubuhnya)<\/p>\n\n\n\n<p>Wanita yang mengalami pendarahan se\u00adla\u00adin haid dan nifas, darahnya dihukumi istihadhah.<\/p>\n\n\n\n<p>Darah istihadhah sama dengan air kenc\u00ading. Orang yang mengalaminya, dalam segala aspek hukum, sama dengan orang yang mengalami selalu kencing \/ beser (c\u00earc\u00ear, jw). Orang yang sedemikian ini disebut da\u2019imul hadats (orang yang se\u00adlalu berhadas). Sehingga tetap wajib salat dan puasa. Bahkan boleh disetu\u00adbuhi, meskipun darahnya sedang men\u00adgalir.<\/p>\n\n\n\n<p>Da\u2019imul hadats yang hendak salat fardlu, wudlunya wajib dilaksanakan setelah masuknya waktu salat. Setiap akan ber\u00adsesuci (wudlu\/tayamum), wajib mem\u00adbersihkan kemaluannya dengan air atau istinja\u2019 dengan benda padat dsb. Lalu menyumbat lubang kemaluannya den\u00adgan sejenis kapas yang suci.<\/p>\n\n\n\n<p>Bila setelah disumbat hadasnya (da\u00adrah\/kencing) masih merembes keluar, ia wajib memakai pembalut dan bercelana dalam yang kuat.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk pria hal ini dilakukan dengan cara membalut kepala penis lalu mengikat\u00adnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Semua ini dilakukan bila memang;<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Tidak membahayakan diri; misalnya menimbulkan rasa sakit atau panas dengan terhentinya aliran darah. Bila hal itu dirasa membahayakan \/ me\u00adnyakitkan, maka boleh tidak melaku\u00adkan penyumbatan atau pembalutan.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak berpuasa. Bagi mereka yang berpuasa tidak boleh melakukan pe\u00adnyumbatan. Sebab bisa membatal\u00adkan puasa.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>Kalau hadasnya masih merembes keluar karena darah\/kencingnya sangat kuat \u2013bukan karena kurang kuat dalam mem\u00adbalut\u2013, tidak menjadi masalah. Artinya salatnya sah, karena wudlunya tidak batal. Berbeda halnya jika hadas terse\u00adbut merembes karena kurang kuat dalam membalut.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika menyumbat tidak boleh ada ba\u00adgian kain\/kapas penyumbat yang keluar, atau berada pada vagina\/penis bagian luar. Meskipun sedikit. Sebab bila ada penyumbat yang keluar ke vagina\/penis luar \u2013walaupun hanya sehelai benang-, maka salatnya tidak sah. Sebab dianggap membawa barang najis. Yang dimaksud vagina bagian luar adalah daerah yang tampak ketika sedang jongkok buang air.<\/p>\n\n\n\n<p>Semua hal di atas (membasuh kelamin, menyumbat sampai dengan salat) harus dilaksanakan setelah masuknya waktu dan tidak boleh lamban. Bila setelah wudlu, ia tidak langsung salat, maka wudlunya batal. Kecuali jika kelamba\u00adnannya tersebut untuk kemaslahatan salat, misalnya untuk menutup aurat, menunggu adzan \/iqamah, mencari arah qiblat atau menunggu jamaah.<\/p>\n\n\n\n<p>Perlu diketahui bahwa, wudlu bagi orang yang selalu berhadas (termasuk musta\u00adhadhah) hukumnya sama dengan orang bertayammum. Dalam artian, niat wud\u00adlunya sama dengan niat tayammum. Tidak boleh niat wudlu sebagaimana biasa. Contoh niat wudlu bagi musta\u00adhadhah adalah; a) niat wudlu agar diper\u00adbolehkan salat Ashar, b) niat wudlu agar diperbolehkan membaca al-Qur\u2019an, atau lainnya. Satu kali wudlu yang diniatkan untuk salat fardlu hanya dapat dipakai untuk satu kali salat fardlu dan beberapa salat atau ibadah sunnat, sampai dengan keluarnya waktu salat. Jadi misalkan wudlunya untuk salat Zuhur, maka sete\u00adlah melakukan salat Zuhur ia boleh me\u00adlaksanakan ibadah-ibadah sunnah yang lain \u2013tanpa mengulangi wudlunya\u2013 sam\u00adpai keluarnya waktu Zuhur. Setelah itu wudlunya dianggap batal.<\/p>\n\n\n\n<p>Da\u2019imul hadats yang setelah wudlu ha\u00addasnya (darah\/kencing) berhenti cukup lama (cukup untuk salat dan wudlu), maka wudlunya batal. Demikian juga sebaliknya, wudlu yang dilaksanakan saat darahnya berhenti (lama) tersebut batal dengan keluarnya darah.<\/p>\n\n\n\n<p>Mustahadhah yang memiliki kebiasaan kadang-kadang darahnya bersih (yang lama) dan kadang-kadang keluar, wajib melaksanakan salat dan wudlu pada saat masa bersih. Kecuali bila khawatir keha\u00adbisan waktu salat. Maka wajib wudlu dan salat pada saat darahnya mengalir, tanpa menunggu masa bersih.<\/p>\n\n\n\n<p>Mustahadhah yang jika melaksana\u00adkan shalat berdiri darahnya lebih deras dari\u00adpada saat duduk, maka harus shalat dengan duduk. Wallah a\u2019lam.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Ustadz Farid Ahmad (SDA220006) Cara Bersuci Bagi Daimul Hadats (Orang yg selalu terdapat HADATS pada tubuhnya) Wanita yang mengalami pendarahan se\u00adla\u00adin haid dan nifas, darahnya dihukumi istihadhah. Darah istihadhah sama dengan air kenc\u00ading. Orang yang mengalaminya, dalam segala aspek hukum, sama dengan orang yang mengalami selalu kencing \/ beser (c\u00earc\u00ear, jw). Orang yang sedemikian&hellip; <a class=\"more-link\" href=\"https:\/\/mediadakwah.julehajatim.com\/index.php\/2023\/09\/15\/thoharoh-4\/\">Continue reading <span class=\"screen-reader-text\">Thoharoh (4)<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":40,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[6,4,5,7],"class_list":["post-47","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-fiqh","tag-bersuci","tag-thoharoh","tag-wudhu","tag-wudlu","entry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mediadakwah.julehajatim.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mediadakwah.julehajatim.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mediadakwah.julehajatim.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mediadakwah.julehajatim.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mediadakwah.julehajatim.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mediadakwah.julehajatim.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":48,"href":"https:\/\/mediadakwah.julehajatim.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47\/revisions\/48"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mediadakwah.julehajatim.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/40"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mediadakwah.julehajatim.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mediadakwah.julehajatim.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mediadakwah.julehajatim.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}